Sunday, July 08, 2012

Kamu mau jadi apa?

"Cita-cita w apa?"

"W masih bingung."

"Harus dipikirkan dari sekarang lho w. Kita udah kelas dua. Ntar kalau kelas tiga pasti udah mulai milih fakultas."

"Aa."

"Kalau d sih pengennya jadi dosen. Tapi Mbak Tia nyaranin jadi guru."

"..."

"Gimana pun kita harus tetep kerja w. Paling nggak punya uang yang memang sepenuhnya hak kita. Jadi suami nggak bisa ganggu gugat."

"..."

"Terus kalau pilih kerja jangan yang terlalu banyak di tempat kerja. Kita ini perempuan. Harus ngurusin anak, suami, rumah. Kita harus punya waktu untuk ngurusin itu semua."

.x.

Saya jadi kepikiran kata-kata Diera waktu saya main ke rumahnya seminggu yang lalu. Kami lagi di Warung Ijo waktu ngomongin tentang cita-cita.

Cita-cita, ya?

Cita-cita saya itu sering berubah. Dulu waktu kecil saya ingin menjadi dokter. Kemudian pindah ke balerina (ini ketika saya habis membaca Toe Shoes). Kemudian pindah ke dokter anak, kemudian ke dokter kehamilan. Kemudian pemimpin World Bank. Kemudian..., entahlah. Saya lupa.

Cita-cita saya yang paling terakhir itu ingin menjadi Duta Besar. Kemudian kalau sudah pensiun, saya akan keliling dunia dengan uang yang sudah saya kumpulkan selama bekerja. Kedengarannya menyenangkan, bukan? Bertemu dengan orang asing. Mempelajari bahasa mereka. Menemukan teman di tempat yang tidak kita duga. Melihat banyak keindahan dunia. Saya mau jadi seorang backpacker.

Tetapi kemudian saya berpikir.

Tentunya hal seperti itu memerlukan banyak pengorbanan kan? Apakah nanti saya bisa mengurus anak saya ketika menjadi Duta atau backpacker? Apakah nanti saya bisa mengurus rumah tangga saya ketika saya menjadi Duta tau backpacker? Apakah orang-orang yang berada di sekitar saya memahami dan mendukung apa yang saya lakukan?

Entahlah. Saya juga bertanya-tanya.

Kemudian Duta Besar dan backpacker saya coret dari pemikiran saya. Hal-hal seperti itu sepertinya memerlukan banyak pengorbanan. Saya tidak ingin kehidupan dewasa saya berantakan, jadi ya begitu lah. Akan tetapi untuk saat ini saya belum mencoret cita-cita saya itu sepenuhnya. Saya masih ingin bertemu dengan orang asing, mempelajari bahasa mereka, menemukan teman di tempat yang tak terduga, melihat keindahan dunia, dan..., masih banyak lagi.

Saya tidak membiarkan semuanya mengalir seperti air. Menunggu di mana saya berhenti. Karena bagi saya itu suatu kepasrahan. Saya akan 'membuat' sesuatu. Entahlah, saya belum tahu saat ini apa tepatnya yang saya ubah, yang saya lakukan dalam hidup saya. Tapi tentu nanti saya akan menemukannya. Dan ketika semua itu terjadi tentu saya akan menjadi orang yang bahagia. Karena saya menentukan, tentu saja.



Monday, July 02, 2012

I am Going to Wonderland!




ne, where are you going?
pict © the artist

Sunday, June 03, 2012

P.S. I Love You

Mom tersayang.

Aku pergi ke pertemuan hari ini dan Mary mengusulkan agar aku menulis surat kepadamu meskipun kau tidak bisa membacanya. Katanya itu mungkin akan membuatku merasa lebih dekat kepadamu dan mungkin ada hal-hal yang kuharap bisa kukatakan kepadamu dulu.

Aku pergi ke rumah kita dan menuliskannya, dan aku duduk di meja dapur. Tak lama lagi rumah kita akan dijual, tapi sekarang ini aku nyaris bisa berpura-pura kau sedang berbaring di kamarmu, atau kau sedang di tempat kerja dan aku menunggumu pulang supaya kau bisa menceritakan padaku berapa orang bayi yang kaubantu kelahirannya, atau hanya untuk memelukku. Bagian terburuk mengenai datang ke sini adalah memeriksa pintu kulkas dan mencari pesan darimu, tapi tidak menemukan apa-apa. Pintunya putih dan kosong. Dan aku pun menangis lama sekali.

Aku merindukanmu, Mom. Aku berharap kau masih di sini bersama kami. Aku senang tinggal bersama Dad, tapi aku berharap kau masih ada di sini. Aku tidak mengerti kenapa kau harus diambil dariku, atau kenapa kau harus jatuh sakit, atau kenapa kau meninggal begitu cepat sementara di mana-mana banyak wanita lain berhasil mengatasinya. Bagaimana bisa seperti ini? Bisa-bisanya kau pergi begitu saja? Bisa-bisanya kau meninggalkan aku? Rasanya seolah-olah aku begitu marah padamu, Mom. Bukankah itu konyol sekali?

Ingatkah kau betapa indahnya warna musim gugur, saat kita memandang keluar dari jendela kamarmu ketika kondisimu semakin parah, dan melihat warna kuning serta merah membuat langit lebih terang? Kau berusaha begitu keras untuk melawannya, Mom. Aku benci membayangkan betapa beratnya semua itu bagimu.

Musim dingin kali ini panjang dan dingin. Aku pergi ke sekolah, tapi kebanyakan aku merasa seolah-olah berada di tengah kabut. Emma sangat manis, juga James, dan Gina baik sekali, Mom, kau nggak bakal percaya. Tapi mereka buka kau. Natal tahun ini benar-benar mengerikan.

Mary benar. Aku merasa lebih baik setelah menulis untukmu, meskipun itu membuatku menangis lebih daripada tangisku selama berbulan-bulan ini. Katanya tidak apa-apa jika aku merasa sedih, atau marah, dan bingung. Tapi rasanya nggak begitu. Sama sekali nggak.

Kurasa aku harus memberitahumu bahwa Peter baik-baik saja. Aku sudah mengatur kandangnya di rumah Dad, dan waktu aku duduk dan membelai-belai bulunya, aku teringat musim panas dan gugur kita bersama-sama, membuat album-album foto, menyantap makan malam yang dimasakkan Gina, semakin mengenal satu sama lain. Aku bisa mencoba dan membuat diriku lupa tentang betapa sulitnya semua ini bagimu pada saat-saat akhir, tapi aku nggak akan pernah melupakan betapa kuat dan betapa berani dirimu. Aku punya fotomu di atas kursi roda waktu di rumah sakit. Matamu sangat besar dan indah. Kau tampak terkejut, Mom, seolah-olah kau sedang tertangkap basah. Aku merasa seolah-olah kita sama-sama tertangkap basah saat kita benar-benar tak siap.

Aku berharap kita punya lebih banyak waktu, Mom. Kurasa itulah sebenarnya yang ingin aku katakan kepadamu. Aku berharap aku punya lebih banyak waktu bersamamu. Tapi aku bersyukur atas waktu yang kita miliki bersama. Sangat bersyukur. Saat aku nanti kembali ke rumah Dad, dan aku akan melihat-lihat album-album foto kita dan mengenang semua itu. Kurasa akan kutinggalkan surat ini untukmu di sini. Di dapur yang kosong ini. Dengan begitu kau akan tahu kalau kau pulang nanti bahwa aku sayang padamu dan aku merindukanmu. Kumohon, jangan mengkhawatirkan diriku.

Putrimu,

Claire


.x.


Mom tersayang.

Besok ulang tahunku. Aku nggak percaya aku sudah hampir tujuh belas! Dad dan James (sekarang dia sudah jadi pacarku--kau ingat James teman sekolahku, kan?) merencanakan kejutan, tapi aku harus pura-pura tidak mengetahuinya. Aku akan pura-pura terkejut.

Aku masih menyimpan kunci rumah kita, dan menanti saat yang tepat. Hari ini aku duduk di tepi sungai tempat kita dulu suka jalan-jalan dan sekonyong-konyong aku pun tahu apa yang harus kulakukan dengan kunci itu. Aku melemparnya sejauh mungkin. Kunci itu berkilau-kilau di bawah cahaya matahari, lalu tahu-tahu kunci itu sudah jatuh ke dalam air dan lenyap. Aku merasa baik-baik saja, Mom, untuk pertama kali untuk waktu yang lama, aku merasa baik-baik saja. Ketika duduk di dekat air, sepertinya aku bisa mendengar suaramu di embusan angin, memberitahuku bahwa kau baik-baik saja.

Suatu hari nanti aku akan melipat pesan ini dan menaruhnya di sungai. Tapi untuk sekarang aku akan menyimpannya di dekatku.

Aku sayang kau.

Claire.




*) taken from Life on the Refrigerator Door by Alice Kuipers page 229 - 232
*) picture taken from weheartit.com

Saturday, June 02, 2012

Tiga-satu Mei

di SMA saya banyak ketemu teman baru. salah satunya Endah Meilianti :)

pertama ketemu sih biasa aja. malah kesan yang saya tangkap waktu itu 'kayaknya ini cewek cerewet deh'. dan ternyata benar, saudara-saudara, ups.. #ditimpuk
well, tidak begitu cerewet sih. tapi terkadang kalau mood-nya lagi sangat sangat sangat bagus bisa benar-benar nyebelin. cubit-cubit lah, toel-toel lah, dan segala macam tingkah lain yang memerlukan kesabaran ekstra.
tapi di luar semua itu dia baik kok. tempat curhat yang oke. tempat nyimpen rahasia yang oke. partner nyontek yang oke (ups, mungkin yang ini nggak perlu dibeberin). dan sedikit banyak, cara berpikirnya sama dengan saya. aa, pokoknya MeiMei tipe teman yang nggak mudah saya lupakan #peluk

omong-omong soal peluk, kemarin saya habis dipeluk sama MeiMei. tanggal tiga-puluh-satu Mei kemarin. waktu ulang tahunnya yang ke enam belas.

jadi kemarin saya berkomplot sama Indri dan Atra untuk nyiapain kejutan ulang tahun untuk MeiMei. well, standar aja sih kejutannya. kue doang, haha. jadi beberapa hari sebelumnya kami bertiga patungan. terus yang beli kuenya Indri. pas tanggal tiga-puluh-satu itu saya bertugas membawa MeiMei ke koperasi untuk jajan apa aja, sementara Indri nyiapin kuenya. dan demi apa. ngarang bohong yang bisa buat MeiMei ke koperasi itu susah banget. males lah, gak bawa uang lah, ugh! tapi karena kesungguhan saya, saya berhasil membawa MeiMei ke koperasi. dengan sedikit paksaan (red: narik-narik baju).
kemudian waktu balik ke kelas, semua udah rapi. tinggal tunggu waktu yang pas aja untuk mengeluarkan kue. jadi waktu MeiMei lagi coret-coret white board, Indri dari luar bawa kue yang berhiaskan lilin menyala itu. terus pada nyanyi semua. dan saya bisa liat wajah speechless-nya MeiMei yang kaget campur bingung, ekspresinya lucu >.<

terus habis MeiMei tiup lilinnya, pada potong kue deh. err, bukan potong sih. tapi nyuil sedikit-sedikit pake sendok terus disuapin satu-satu ke anak-anak sekelas. habisnya kuenya cumc cupcake kecil empat biji XD

dan yang buat saya gantian speechless itu waktu MeiMei cerita kalau ulang tahun dia yang paling berkesan itu waktu ulang tahun yang ke tiga-belas sama ke enam-belas ini. dia bilang dia senang, dan saya benar-benar ikut senang. saya ingat dulu ibu pernah bilang 'buat orang lain senang itu dapat pahala'. #peluklagi



ini kuenya MeiMei. warnanya itu~~~ >.<



Indri sama Endah, mereka duduk semeja di belakang saya :D



dari kiri ke kanan : Atra, saya, MeiMei, Indri



MeiMei sama kuenya. happy bday :3



MeiMei sama Hany, agak serem liat senyum Hany ^^v



with her cupcakes again :D



segitu aja deh fotonya. saya orangnya sensitif sama privacy sih. tapi yang ini tentu saja saya sudah minta izin sama MeiMei untuk diupload.

once again. happy birthday Mei, wish you always all the best.
ps : semoga kita sekelas di XI IPA

Tuesday, May 08, 2012

They aren't Us

Mereka itu bukan kita
Bukan kita yang masih dekat
walaupun tanpa ikatan, ntahlah...
ada apa di antara hati kita.

Mereka itu bukan kita
Bukan kita yang sering sekali
berkomunikasi lewat handphone,
padahal jaraknya 3 meter pun
tak sampai.

Mereka itu bukan kita.
Bukan kita yang selalu memberi semangat
Bukan kita yang selalu punya cerita untuk dibagi...
Bukan kita yang lebih mengutamakan satu sama lain...
Sekali lagi... aku katakan dengan suara yang tak terdengar telingamu
M e r e k a i t u b u k a n k i t a


belongs to my dear best friend, Diera.
thanks for changed my point of view :)




*) picture taken from weheartit.com

Monday, April 23, 2012

Sebeeel!

Saya sebel!

Pertama; tugas Bahasa Indonesia saya tiba-tiba aja nggak ada di flashdisk yang dikumpulkan. Padahal saya dan teman-teman selesai yang paling pertama. Oke, saya ceritakan dari awal.
Semua bermula ketika guru Bahasa Indonesia tercinta saya memberikan tugas untuk buat media pembelajaran. Jadi kalau misalnya kelompok A memilih kompetensi dasar puisi, maka kelompok itu harus buat video yang isinya pembacaan puisi. Dan pembaca puisi itu harus anak-anak dari kelompok A. Jadi nggak bisa ngopy.

Nah kelompok saya yang terdiri dari saya, Atra, Endah, Indri, dan Fajri mengambil kompetensi dasar cerita rakyat (oh iya, tiap kelompok kompetensi dasarnya nggak boleh sama). Jadi kami membuat gambar orang gitu, ntar ditempel di pensil, jadi modelnya mirip wayang (walaupun sama sekali nggak mirip wayang). Waktu itu kami mengangkat cerita rakyat Timun Mas.
Jadi selama empat hari kami membuat gambar orang dan latarnya. Atra menangani gambar-mengambar. Saya, Endah, dan Indri mengurusi pewarnaannya. Dan si Fajri baru datang waktu proses shootingnya #jitakFajri

Nah, selama proses pembuatan itu kami selalu pulang sore (buatnya di sekolah, habis rumahnya pada jauh-jauh sih). Paling sore ya dari sekolah jam empat. Selama empat hari; Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu saya pulang sekitar jam empat. Belum lagi hari Rabu sama Sabtu saya ada bimbingan belajar jam empat --"

Karena kecepatan kami dalam mengolah segala macamnya itu (termasuk pengeditan) , hari Selasa video sudah siap dikumpulkan. Jadilah kelompok saya dan Rio (yang udah selesai juga) niat mengumpulkan hari itu menggunakan flashdisk Fajri. Tapi ternyata, guru tercinta saya itu nggak mau nerima kalau semua kelompok belum selesai dan katanya harus dikumpulkan di satu flashdisk. Jadi harus nunggu mereka deh. Oke, kami menunggu.

Waktu teman-teman yang lain sudah selesai dan flasdisk yang disumbangkan untuk tugas satu ini sudah ada, Atra lalu mindahin video Timun Mas kami. Dan flashdisk itu pun dikumpulkan.

Lalu bencananya dimuai dari sini! Waktu flashdisk itu di buka sama guru Bahasa Indonesia tercinta saya di kelas. Video kelompok saya dan Rio tidak ada. Tidak ada, saudara-saudara! TIDAK ADA. Saya lemes rasanya waktu itu. Mengingat guru tercinta yang satu ini cenderung nggak nerima tugas telat, saya makin lemes. Kami; saya, Atra, Endah, Indri, Fajri, Rio, sama Bowo pun maju ke garis depan untuk menjelaskan ke guru Bahasa Indonesia tercinta kami. Dan benar saja, beliau tidak mendengar semua penjelasan kami. Dengan gampangnya ia bilang, "Ya nanti tinggal dikasih 0."
Demi apa pun juga, izinkan saya meneriakkan penjelasan di depan guru itu!
Kami sudah kerjain video itu, selama empat hari, pulang sore! Dan tiba-tiba dapat 0! Sungguh, sejak itu saya enggan masuk pelajaran Bahasa Indonesia!

Dikiranya gampang apa, edit video biar bagus. Atra (yang nanganin edit-edit) sampe begadang nunggu downloadan aplikasi untuk edit itu video. Bener-bener deh guru kami satu itu. Pengertiannya nggak ada, huh. Mood saya langsung jatuh ke titik terendah. Saya juga nggak ngerti kenapa video punya saya dan Rio bisa hilang. Dimakan virus, mungkin?
Beberapa hari kemudian saya dan Endah mulai menerima kenyataan. Rela deh, walaupun cara saya memandang guru Bahasa Indonesia tercinta itu sudah berubah.


Kedua; downloadan Spirited Away saya nggak bisa di-extract! Hari ini tadi sekolah saya menggadakan acara perpisahan untuk anak kelas tiga. Dan saya memilih untuk nggak datang. Kenapa? Simpel, karena saya nggak suka acara yang kaya gitu. Paling ntar saya juga mojok sendirian di sana. Jadilah hari ini hari libur nggak resmi untuk saya, fufu...
Kegiatan saya habis bangun tidur itu sarapan, habis itu nonton Doraemon, mandi, lalu ngelajutin downloadan Spirited Away saya yang belum selesai semalam. Spirited Away ada lima part dalam bentuk rar. Semalam saya sudah download part 1, 2, dan 5. Jadi pagi ini saya download sisanya. Ukuran filenya juga lumayan besar. Dari part 1-4 ukurannya 96MB, yang part 5 ukurannya 17MB.

Rencana saya selesai download jam 12an, dari jam 12 sampai jam satu urus extract-extract-an sama baca Infamagz bentar (saya download juga pdf-nya Infamagz yang memorinya juga lumayan besar; 94MB). Terus jam satu saya makan siang sama sholat, habis itu nonton Spirited Away. 

Dan rencana itu tinggallah rencana. Seperti yang saya bilang. Spirited Away-nya nggak bisa diextract. Mood saya turun ke angka 5%. Saya udah capek download Spirited Away dengan memori (kalau digabungin) 400MB dan TIDAK BISA diextract. Oh My God.
Saya udah konfirmasi ke website tempat saya download. Dan katanya, sepertinya file Spirited Away emang agak rusak. KEMBALIKAN KUOTA SAYA!
Well, saya harus menunggu bulan depan untuk download lagi kalau nggak mau koneksi internet saya naik turun.

Oh, best day ever --"




*) picture taken from deviantart.com

Wednesday, April 18, 2012

屍鬼, Corpse Demon

Beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai nonton Shiki; anime yang diadaptasi dari horror novel by Japanese novelist Fuyumi Ono (Ghost Hunt juga yang buat Fuyumi-sensei lho). Dan saya cukup tekesan sama anime ini. Mungkin karena ini satu-satunya anime yang saya cari sendiri referensinya, dan semua episode saya download sendiri, hoho. Selama ini kan saya kalau nyari anime tukaran sama senpai saya di sekolah X)


The desolate earth has been frozen over and hardened up and down, several times over..


ini versi animenya                                                    

kalau ini versi novelnya


Rating: 15+
Genre: Mystery, Horror, Supernatural
Original Manga: Ryu Fujisaki
Original Creator: Fuyumi Ono
Director: Tetsuro Amino
Music: Yasuharu Takanashi
Number of episodes: 22
Official Sitehttp://www.okiagari.net/


This is the appointed time when he will come to the wasteland. That corpse should have been buried together with his grief..


Jadi ceritanya itu dimulai dengan kebencian Shimizu Megumi terhadap desanya; Sotoba--sebuah desa terpencil yang berpenduduk sejumlah 1300 orang. Kalau mayoritas penduduk Jepang mengkremasi jasad orang yang sudah meninggal, di Satoba masih dijalankan tradisi mengubur mayat orang meninggal. Lagi pula, rata-rata pekerjaan para penduduk Sotoba itu membuat kayu nisan kuburan. Dua hal yang Megumi sukai dari desanya adalah Yuuki Natsuno; pemuda tampan yang baru saja pindah dari kota dan kastil Kanemasa yang terletak di atas bukit dan terlihat jelas dari pedesaan. Tanaka Kaori memberitahu pada Megumi bahwa kastil Kanemasa dihuni oleh sepasang suami istri dan putri mereka. Didorong oleh rasa penasarannya Megumi pun mendatangi kastil tersebut. Dan setelah itu keberadaan Megumi tidak diketahui.


Seorang penduduk desa menemukan Megumi terbaring setengah sadar di hutan. Dokter Ozaki Toshio yang memeriksanya mengatakan kalau Megumi hanya terkena anemia biasa. Namun dua hari kemudian Dokter Ozaki mendapat telepon yang mengatakan kalau Megumi meninggal dunia!


Sebenarnya belakangan ini di Sotoba banyak orang yang meninggal secara misterius. Satu keluarga ditemukan meninggal, beberapa mayat dalam keadaan membusuk juga ditemukan, dan yang lainnya meninggal karena anemia seperti Megumi. Ozaki dan pendeta kuil Muroi Seishin yang mulai curiga ada sesuatu di balik semua kematian mulai melakukan penyelidikan. Ternyata kurang dari sebulan, sudah ada sepuluh orang Sotoba yang meninggal dunia. Kesamaan pada semua korban adalah gejala awal penyakit biasa, seperti Megumi yang awalnya didiagnosis anemia, namun dari hari ke hari keadaan korban semakin memburuk yang berakhir meninggal dunia. Ozaki dan Muroi menduga wabah epidemik melanda Sotoba. Ozaki didatangi Yasumori Nao yang merasa kelelahan. Ozaki melihat keadaan Nao mirip Megumi sehingga ia memeriksa wanita itu dengan seksama. Sambil menunggu hasil lab keluar, Ozaki memberikan vitamin dan meminta Nao datang tiga hari lagi. Hasil tes Nao menunjukkan gejala yang sama dengan Megumi, yaitu anemia. Ozaki meminta suster menelepon Nao supaya datang lebih cepat untuk pemeriksaan lanjutan. Beberapa hari kemudian Nao yang sudah kepayahan datang ke rumah sakit sambil dipapah suaminya, Yasumori Mikiyasu. Ozaki mengorek keterangan dari Mikiyasu mengenai keadaan Nao. Menurut suami Nao, istrinya sudah sakit lebih dari tiga hari. Sewaktu ditanya pegawai atau client yang tampak sakit atau bertingkah aneh, Mikiyasu malah menceritakan tentang kedatangan suami istri Kirishiki, penghuni baru kastil Kanemasa. Beberapa hari kemudian Nao meninggal.


Natsuno acuh tak acuh dengan kematian Megumi, padahal ia tahu kalau Megumi suka padanya. Kedatangan Natsuno ke pemakaman Megumi sekedar setor muka, bahkan ia menolak kartu musim panas dari Megumi yang ditemukan Kaori di meja belajar Megumi. Malam harinya saat belajar, Natsuno merasa ada yang mengintai dari semak-semak di luar kamar. Sejak saat itu Natsuno menutup jendela kamar di malam hari. Tapi rasa tak nyaman masih menyerangnya sehingga ia menginap di rumah Mutou Tooru. Tooru keluar membeli minuman ringan di vending machine, uangnya jatuh ke kolong mesin karena tidak sengaja. Tooru dibantu mengambil uangnya oleh Tatsumi, pelayan keluarga Kirishiki yang baru pindah ke kastil Kanemasa. Didorong oleh rasa terima kasih, Tooru mengundang Tatsumi lain waktu bertandang ke rumahnya. Tatsumi menyambut senang undangan tersebut sambil tersenyum aneh.


Sementara itu jumlah orang yang meninggal semakin bertambah. Kecurigaan juga muncul di benak Tanaka Akira. Menurutnya keluarga Kirishiki berada di balik kematian penduduk Sotoba. Kecurigaannya berdasarkan fakta beberapa korban pernah bertemu keluarga Kirishiki sebelum mereka meninggal. Kemalangan tak habis menimpa keluarga Mikiyasu. Kali ini anak Mikiyasu dan Nao menderita penyakit yang sama seperti ibunya. Ozaki sempat mengambil sampel darah Mikiyasu untuk diteliti yang kemudian menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan Nao. Pada akhirnya Mikiyasu pun meninggal dunia, dengan demikian jumlah korban bertambah menjadi 19 orang.


Natsuno masih merasa tidak nyaman tidur di kamarnya, ia merasa di luar sana Megumi berdiri menunggunya. Natsuno mengira dengan menginap di rumah Tooru adalah jalan keluar dari masalahnya, tapi justru membawanya ke dalam mimpi buruk yang sebenarnya. Beberapa hari kemudian Natsuno tidak bertemu Tooru. Ketika Natsuno datang ke rumah Tooru, ia melihat Ozaki tergesa-gesa masuk ke rumah sahabatnya. Sesampainya di kamar Tooru, yang dilihat Natsuno adalah Tooru yang terbaring kaku.


Natsuno yakin ada yang tidak beres. Dia mencari-cari buku tentang vampir di perpustakaan, namun buku tersebut sedang dipinjam Muroi. Ketika mendatangi rumah Muroi, orang yang dicari sedang keluar. Beberapa hari kemudian Natsuno berpapasan dengan Ozaki di jalan dan sempat bertanya jawab mengenai kemungkinan Megumi hidup kembali. Ozaki memikirkan fakta-fakta yang terkumpul; gigitan binatang di tubuh, anemia, tidak meratanya jumlah korban dalam setiap kasus, tradisi mengubur mayat di Sotoba, dan berkurangnya jumlah penduduk. Ozaki curiga bahwa semua kejadian ini bukanlah penyakit epidemi semata, tapi ada hal yang lebih besar lagi di dalamnya.


The dark and gloomy sky hang low, where the clouds and the earth has the world beautifully divided into two..


Yuuki Natsuno


Natsuno selalu ingin kembali ke kota karena tidak betah di Sotoba, makanya ia belajar keras supaya bisa kuliah di kota. Dia cuek kepada Megumi karena tidak suka tingkahnya yang seperti stalker. Sulit mendekati Natsuno karena ia tipe penyendiri. Dia mulai curiga ada yang tidak beres di Sotoba setelah kematian Megumi, namun kematian Tooru--sahabatnya yang membuat Natsuno bertekad menyelediki misteri di desa itu.

Ozaki Toshio


Dokter sekaligus pemilik rumah sakit Ozaki. Ozaki menduga besarnya angka kematian disebabkan oleh wabah penyakit misterius, tapi percakapannya dengan Natsuno membuka pikirannya bahwa ada kemungkinan lain yang lebih mengerikan.

Muroi Seishin


Sahabat lama Ozaki. Dia sudah menulis beberapa cerpen novel dan kumpulan novel. Muroi jadi dekat dengan Sunako karena kerap bertemu gadis itu di malam hari. Ia terlihat punya ketertarikan pada Sunako.

Mutou Tooru


Satu-satunya sahabat Natsuno. Tooru memperlakukan Natsuno seperti adik sendiri. Meski sudah menjadi Shiki, Tooru tetap memiliki hati nurani yang berperang dengan kebutuhan fisik akan darah manusia.

Tanaka Akira


Putra bungsu keluarga Tanaka. Akira yakin keluarga Kirishiki merupakan otak dibalik kematian penduduk Sotoba. Tidak ada yang percaya padanya selain Kaori dan Natsuno. Bersama Natsuno dan Kaori, Akira menyelidiki misteri di desa kelahirannya.

Tanaka Kaori


Termasuk segelintir orang yang benar-benar berduka atas kematian Megumi. Kaori baru percaya ada yang tidak beres di Sotoba setelah ia melihat sendiri kubur kosong Megumi dan diserang oleh mayat hidup.

Tatsumi


Pelayan keluarga Kirishiki. Tugasnya mengawasi Shiki supaya rahasia mereka tidak diketahui dunia luar. Tatsumi yang selalu tersenyum ramah ini sebenarnya sadis. Dia senang mempermainkan perasaan Shiki yang masih terikat dengan dunia manusia.

Shimizu Magumi


Gadis cantik yang bercita-cita menjadi bintang terkenal. Ketertarikannya pada Natsuno dikarenakan ia tahu pemuda itu juga muak dengan Sotoba. Rasa penasarannya kepada keluarga Kirishiki dibayar mahal dengan kehidupan sebagai mahluk malam. Meski sudah menjadi Shiki, Megumi masih menyukai Natsuno.

Keluarga Kirishiki


Keluarga yang pindah ke kastil Kanemasa. Cewek kecil di tengah itu Sunako. Lalu wanita yang duduk itu Chizuru. Laki-laki yang pakai jas putih itu Seishirou. Lalu cowok yang ada kuping kucing (sebenarnya model rambut) itu Tatsumi. Nah sisanya saya lupa siapa namanya, cewek berkimono sama cowok berkacamata itu..


Kalau menurut saya sih endingnya tidak terlalu buruk. Hanya saja saya masih penasaran sama Muroi yang pergi pakai mobil membawa koper kecil (yang menurut saya berisi Sunako). Oh, dan lagi musicnya itu benar-benar membuat saya khawatir lirik kiri-kanan (saya kan nontonya malam-malam, sendirian pula, haha..).
Aa, pokoknya ini anime termasuk anime yang saya rekomendasikan :)

sumber : Animonster dan pemikiran gaje saya X)

Fangirling side :
Dari sekian banyak cowok di Shiki saya naksir Ozaki Toshio-sensei >.<
Aa, wajahnya emang udah tua, tapi charmingnya itu masih kerasa. Walaupun agak ngeri juga waktu dia otak-atik tubuh istrinya (ups, spoiler, hihi..)
Awalnya sih saya naksir Natsuno. Tapi setelah beberapa episode saya kurang sreg sama Natsuno, mungkin karena dia terlalu dingin..






he's so adorable, isn't he?


Soon, the light from the sun will fade, and once again, night will come..

*) picture taken from zerochan.net
 

Designed by 100 Web Hosting