Showing posts with label tristesse. Show all posts
Showing posts with label tristesse. Show all posts

Sunday, January 06, 2013

Lima - Enam Januari 2013

jadi rabu kemarin, dua januari 2013, bapak bilang saya ke terima di sma negeri enam surakarta. saya nggak tau harus bagaimana. saya sendiri bingung, di satu sisi saya ingin segera pindah, tapi di sisi lain saya juga nggak mau pergi jauh dari rumah.

malamnya saya sudah disuruh bapak packing. tapi saya malas. demi apa pun saya enggan packing. kamis pagi setelah dengar berita kalau saya bakalan cepat pindah, saya bilang kepada diri saya sendiri; saya harus sekolah di hari-hari terakhir saya di pontianak. saya mau main dengan teman-teman.

sepulang sekolah hari kamis itu, saya main ke rumah diera (my beloved best friend). tapi karena suatu hal, saya dijemput diera di sekolah lalu ke rumahnya. tapi karena sudah sore, saya hanya main sebentar. saya sempat bantuin diera ngaduk pudding sama ngupas mangga untuk puddingnya. jam lima saya sudah dijemput bapak.

lalu malamnya saya disuruh packing. tapi demi apa pun juga saya males packing. malam itu bapak pulang dari surau jam sembilan, tahlilan dulu ke tempat tetangga saya. jadi, alih-alih packing, saya malah download Tale of Despereaux.

entah kenapa, malam itu saya putuskan jumat bolos sekolah. padahal seharian saya semangat banget mau sekolah. entahlah. mungkin karena faktor guru **** mengajar besok. lagi pula, saya belum ada packing sama sekali. jadi niatnya jumat pagi saya harus packing.

jadi jumat pagi saya packing. baju, buku, semua harus udah dirapikan. siangnya setelah bapak pulang jumatan, saya sama bapak jalan-jalan, terus ke kantor ibu, pamitan sama teman-teman kantor ibu.

malamnya saya packing lagi. sambil lanjut download Tale of Despereaux.

lalu sabtu pagi saya sekolah. waktu pelajaran sejarah saya dibully hafizh. kan waktu itu lagi jelasin tentang masa penjajahan jepang di indonesia. hafizh bilang ke saya 'jepang tu licik. masih gak kau suke same jepang tu wid'. meh, apa kah otaku selama pelajaran sejarah (khususnya masa penjajahan jepang) selalu dibully? fisika biasa saja. soal dari pak rahmono tambah susah. lalu waktu pelajaran senbud. saya sudah dianggap nggak ada. kan ceritanya untuk tugas akhir semester dua ada praktek nari tradisional kreasi. lalu sabtu itu kelompok narinya sudah dibagi (waktu itu boleh milih kelompok sendiri). dan waktu pak wanda tanya sekelas ada berapa orang, anak-anak pada jawab tiga satu. saya nggak dihitung. meh...

pulangnya saya nggak bisa lama-lama main, soalnya saya masih harus lanjut packing. padahal siang itu ada acara ulang tahun fani sama arum.

lalu sekitar jam setengah satu itu diera datang ke rumah saya. nganterin kenang-kenangan. diera dateng sama gebetannya *ehem

jam satu saya ke bandara. jam dua cheek in. lalu saya nunggu teman-teman yang katanya mau nganterin saya. sampai jam dua lebih lima belas mereka nggak datang-datang. akhirnya saya sama bapak duduk di mushola. sekitar jam dua lebih dua puluh, teman-teman saya sampai. ada hani, nadya, endah, utin, ika, fifi, lydia, uwik, indra, atra, sama dedy. karena pesawat saya take off jam tiga, maka jam tiga kurang lima belas saya masuk ke ruang tunggu. saya dikasih kenang-kenangan kalung sama buku oleh indra, dan notebook kenangan dari teman-teman XE. katanya waktu itu ristya sama fany ke bandara. tapi saya sudah keburu masuk. lalu hanafi juga mau ke bandara. tapi nggak jadi karena saya sudah masuk.

dan demi apa juga, pesawat saya delay sampai jam empat. saya merasa rugi masuk ruang tunggu awal-awal, sungguh.

saya sampai jogja jam enam. ambil bagasi, lalu langsung ke kost mbak wik. habis itu sholat, cari makan, ke rumah teman mbak wik liat bayi, lalu mandi, sholat, ngulet, lalu tidur. eh tapi sebelum tidur, saya buka notebook dari XE. dan demi apa pun juga, saya akan selalu simpan buku itu.

lalu minggu paginya saya ke malioboro. nyari celana, sendal, sama soft case (ini nulisnya bener nggak?). saya sama mbak wik sempat jajan dawet sama srikaya. habis itu mampir ke toga mas. sebenarnya saya pengen beli bukunya tere liye yang seri anak mamak itu. tapi karena saya harus hemat, saya nggak jadi beli.

habis zuhur saya sama bapak ke solo pakai taksi. sampai di solo saya biasa aja. nggak ada rasa gejolak yang biasa datang ketika saya pulang ke solo untuk liburan. entahlah.

dan saya sempat homesick. nangis minta pulang, takut sama lingkungan baru, dan sebagainya, dan sebagainya. entahlah.

besok sekolah masuk jam setengah tujuh. harus ada energi ekstra yang saya siapkan (di pontianak saya masuk jam tujuh). doa kan saya ya? semoga saya bisa cepat adaptasi dan cepat dapat teman. saya percaya kepada waktu.

Sunday, June 03, 2012

P.S. I Love You

Mom tersayang.

Aku pergi ke pertemuan hari ini dan Mary mengusulkan agar aku menulis surat kepadamu meskipun kau tidak bisa membacanya. Katanya itu mungkin akan membuatku merasa lebih dekat kepadamu dan mungkin ada hal-hal yang kuharap bisa kukatakan kepadamu dulu.

Aku pergi ke rumah kita dan menuliskannya, dan aku duduk di meja dapur. Tak lama lagi rumah kita akan dijual, tapi sekarang ini aku nyaris bisa berpura-pura kau sedang berbaring di kamarmu, atau kau sedang di tempat kerja dan aku menunggumu pulang supaya kau bisa menceritakan padaku berapa orang bayi yang kaubantu kelahirannya, atau hanya untuk memelukku. Bagian terburuk mengenai datang ke sini adalah memeriksa pintu kulkas dan mencari pesan darimu, tapi tidak menemukan apa-apa. Pintunya putih dan kosong. Dan aku pun menangis lama sekali.

Aku merindukanmu, Mom. Aku berharap kau masih di sini bersama kami. Aku senang tinggal bersama Dad, tapi aku berharap kau masih ada di sini. Aku tidak mengerti kenapa kau harus diambil dariku, atau kenapa kau harus jatuh sakit, atau kenapa kau meninggal begitu cepat sementara di mana-mana banyak wanita lain berhasil mengatasinya. Bagaimana bisa seperti ini? Bisa-bisanya kau pergi begitu saja? Bisa-bisanya kau meninggalkan aku? Rasanya seolah-olah aku begitu marah padamu, Mom. Bukankah itu konyol sekali?

Ingatkah kau betapa indahnya warna musim gugur, saat kita memandang keluar dari jendela kamarmu ketika kondisimu semakin parah, dan melihat warna kuning serta merah membuat langit lebih terang? Kau berusaha begitu keras untuk melawannya, Mom. Aku benci membayangkan betapa beratnya semua itu bagimu.

Musim dingin kali ini panjang dan dingin. Aku pergi ke sekolah, tapi kebanyakan aku merasa seolah-olah berada di tengah kabut. Emma sangat manis, juga James, dan Gina baik sekali, Mom, kau nggak bakal percaya. Tapi mereka buka kau. Natal tahun ini benar-benar mengerikan.

Mary benar. Aku merasa lebih baik setelah menulis untukmu, meskipun itu membuatku menangis lebih daripada tangisku selama berbulan-bulan ini. Katanya tidak apa-apa jika aku merasa sedih, atau marah, dan bingung. Tapi rasanya nggak begitu. Sama sekali nggak.

Kurasa aku harus memberitahumu bahwa Peter baik-baik saja. Aku sudah mengatur kandangnya di rumah Dad, dan waktu aku duduk dan membelai-belai bulunya, aku teringat musim panas dan gugur kita bersama-sama, membuat album-album foto, menyantap makan malam yang dimasakkan Gina, semakin mengenal satu sama lain. Aku bisa mencoba dan membuat diriku lupa tentang betapa sulitnya semua ini bagimu pada saat-saat akhir, tapi aku nggak akan pernah melupakan betapa kuat dan betapa berani dirimu. Aku punya fotomu di atas kursi roda waktu di rumah sakit. Matamu sangat besar dan indah. Kau tampak terkejut, Mom, seolah-olah kau sedang tertangkap basah. Aku merasa seolah-olah kita sama-sama tertangkap basah saat kita benar-benar tak siap.

Aku berharap kita punya lebih banyak waktu, Mom. Kurasa itulah sebenarnya yang ingin aku katakan kepadamu. Aku berharap aku punya lebih banyak waktu bersamamu. Tapi aku bersyukur atas waktu yang kita miliki bersama. Sangat bersyukur. Saat aku nanti kembali ke rumah Dad, dan aku akan melihat-lihat album-album foto kita dan mengenang semua itu. Kurasa akan kutinggalkan surat ini untukmu di sini. Di dapur yang kosong ini. Dengan begitu kau akan tahu kalau kau pulang nanti bahwa aku sayang padamu dan aku merindukanmu. Kumohon, jangan mengkhawatirkan diriku.

Putrimu,

Claire


.x.


Mom tersayang.

Besok ulang tahunku. Aku nggak percaya aku sudah hampir tujuh belas! Dad dan James (sekarang dia sudah jadi pacarku--kau ingat James teman sekolahku, kan?) merencanakan kejutan, tapi aku harus pura-pura tidak mengetahuinya. Aku akan pura-pura terkejut.

Aku masih menyimpan kunci rumah kita, dan menanti saat yang tepat. Hari ini aku duduk di tepi sungai tempat kita dulu suka jalan-jalan dan sekonyong-konyong aku pun tahu apa yang harus kulakukan dengan kunci itu. Aku melemparnya sejauh mungkin. Kunci itu berkilau-kilau di bawah cahaya matahari, lalu tahu-tahu kunci itu sudah jatuh ke dalam air dan lenyap. Aku merasa baik-baik saja, Mom, untuk pertama kali untuk waktu yang lama, aku merasa baik-baik saja. Ketika duduk di dekat air, sepertinya aku bisa mendengar suaramu di embusan angin, memberitahuku bahwa kau baik-baik saja.

Suatu hari nanti aku akan melipat pesan ini dan menaruhnya di sungai. Tapi untuk sekarang aku akan menyimpannya di dekatku.

Aku sayang kau.

Claire.




*) taken from Life on the Refrigerator Door by Alice Kuipers page 229 - 232
*) picture taken from weheartit.com
 

Designed by 100 Web Hosting