Tuesday, May 08, 2012

They aren't Us

Mereka itu bukan kita
Bukan kita yang masih dekat
walaupun tanpa ikatan, ntahlah...
ada apa di antara hati kita.

Mereka itu bukan kita
Bukan kita yang sering sekali
berkomunikasi lewat handphone,
padahal jaraknya 3 meter pun
tak sampai.

Mereka itu bukan kita.
Bukan kita yang selalu memberi semangat
Bukan kita yang selalu punya cerita untuk dibagi...
Bukan kita yang lebih mengutamakan satu sama lain...
Sekali lagi... aku katakan dengan suara yang tak terdengar telingamu
M e r e k a i t u b u k a n k i t a


belongs to my dear best friend, Diera.
thanks for changed my point of view :)




*) picture taken from weheartit.com

Monday, April 23, 2012

Sebeeel!

Saya sebel!

Pertama; tugas Bahasa Indonesia saya tiba-tiba aja nggak ada di flashdisk yang dikumpulkan. Padahal saya dan teman-teman selesai yang paling pertama. Oke, saya ceritakan dari awal.
Semua bermula ketika guru Bahasa Indonesia tercinta saya memberikan tugas untuk buat media pembelajaran. Jadi kalau misalnya kelompok A memilih kompetensi dasar puisi, maka kelompok itu harus buat video yang isinya pembacaan puisi. Dan pembaca puisi itu harus anak-anak dari kelompok A. Jadi nggak bisa ngopy.

Nah kelompok saya yang terdiri dari saya, Atra, Endah, Indri, dan Fajri mengambil kompetensi dasar cerita rakyat (oh iya, tiap kelompok kompetensi dasarnya nggak boleh sama). Jadi kami membuat gambar orang gitu, ntar ditempel di pensil, jadi modelnya mirip wayang (walaupun sama sekali nggak mirip wayang). Waktu itu kami mengangkat cerita rakyat Timun Mas.
Jadi selama empat hari kami membuat gambar orang dan latarnya. Atra menangani gambar-mengambar. Saya, Endah, dan Indri mengurusi pewarnaannya. Dan si Fajri baru datang waktu proses shootingnya #jitakFajri

Nah, selama proses pembuatan itu kami selalu pulang sore (buatnya di sekolah, habis rumahnya pada jauh-jauh sih). Paling sore ya dari sekolah jam empat. Selama empat hari; Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu saya pulang sekitar jam empat. Belum lagi hari Rabu sama Sabtu saya ada bimbingan belajar jam empat --"

Karena kecepatan kami dalam mengolah segala macamnya itu (termasuk pengeditan) , hari Selasa video sudah siap dikumpulkan. Jadilah kelompok saya dan Rio (yang udah selesai juga) niat mengumpulkan hari itu menggunakan flashdisk Fajri. Tapi ternyata, guru tercinta saya itu nggak mau nerima kalau semua kelompok belum selesai dan katanya harus dikumpulkan di satu flashdisk. Jadi harus nunggu mereka deh. Oke, kami menunggu.

Waktu teman-teman yang lain sudah selesai dan flasdisk yang disumbangkan untuk tugas satu ini sudah ada, Atra lalu mindahin video Timun Mas kami. Dan flashdisk itu pun dikumpulkan.

Lalu bencananya dimuai dari sini! Waktu flashdisk itu di buka sama guru Bahasa Indonesia tercinta saya di kelas. Video kelompok saya dan Rio tidak ada. Tidak ada, saudara-saudara! TIDAK ADA. Saya lemes rasanya waktu itu. Mengingat guru tercinta yang satu ini cenderung nggak nerima tugas telat, saya makin lemes. Kami; saya, Atra, Endah, Indri, Fajri, Rio, sama Bowo pun maju ke garis depan untuk menjelaskan ke guru Bahasa Indonesia tercinta kami. Dan benar saja, beliau tidak mendengar semua penjelasan kami. Dengan gampangnya ia bilang, "Ya nanti tinggal dikasih 0."
Demi apa pun juga, izinkan saya meneriakkan penjelasan di depan guru itu!
Kami sudah kerjain video itu, selama empat hari, pulang sore! Dan tiba-tiba dapat 0! Sungguh, sejak itu saya enggan masuk pelajaran Bahasa Indonesia!

Dikiranya gampang apa, edit video biar bagus. Atra (yang nanganin edit-edit) sampe begadang nunggu downloadan aplikasi untuk edit itu video. Bener-bener deh guru kami satu itu. Pengertiannya nggak ada, huh. Mood saya langsung jatuh ke titik terendah. Saya juga nggak ngerti kenapa video punya saya dan Rio bisa hilang. Dimakan virus, mungkin?
Beberapa hari kemudian saya dan Endah mulai menerima kenyataan. Rela deh, walaupun cara saya memandang guru Bahasa Indonesia tercinta itu sudah berubah.


Kedua; downloadan Spirited Away saya nggak bisa di-extract! Hari ini tadi sekolah saya menggadakan acara perpisahan untuk anak kelas tiga. Dan saya memilih untuk nggak datang. Kenapa? Simpel, karena saya nggak suka acara yang kaya gitu. Paling ntar saya juga mojok sendirian di sana. Jadilah hari ini hari libur nggak resmi untuk saya, fufu...
Kegiatan saya habis bangun tidur itu sarapan, habis itu nonton Doraemon, mandi, lalu ngelajutin downloadan Spirited Away saya yang belum selesai semalam. Spirited Away ada lima part dalam bentuk rar. Semalam saya sudah download part 1, 2, dan 5. Jadi pagi ini saya download sisanya. Ukuran filenya juga lumayan besar. Dari part 1-4 ukurannya 96MB, yang part 5 ukurannya 17MB.

Rencana saya selesai download jam 12an, dari jam 12 sampai jam satu urus extract-extract-an sama baca Infamagz bentar (saya download juga pdf-nya Infamagz yang memorinya juga lumayan besar; 94MB). Terus jam satu saya makan siang sama sholat, habis itu nonton Spirited Away. 

Dan rencana itu tinggallah rencana. Seperti yang saya bilang. Spirited Away-nya nggak bisa diextract. Mood saya turun ke angka 5%. Saya udah capek download Spirited Away dengan memori (kalau digabungin) 400MB dan TIDAK BISA diextract. Oh My God.
Saya udah konfirmasi ke website tempat saya download. Dan katanya, sepertinya file Spirited Away emang agak rusak. KEMBALIKAN KUOTA SAYA!
Well, saya harus menunggu bulan depan untuk download lagi kalau nggak mau koneksi internet saya naik turun.

Oh, best day ever --"




*) picture taken from deviantart.com

Wednesday, April 18, 2012

屍鬼, Corpse Demon

Beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai nonton Shiki; anime yang diadaptasi dari horror novel by Japanese novelist Fuyumi Ono (Ghost Hunt juga yang buat Fuyumi-sensei lho). Dan saya cukup tekesan sama anime ini. Mungkin karena ini satu-satunya anime yang saya cari sendiri referensinya, dan semua episode saya download sendiri, hoho. Selama ini kan saya kalau nyari anime tukaran sama senpai saya di sekolah X)


The desolate earth has been frozen over and hardened up and down, several times over..


ini versi animenya                                                    

kalau ini versi novelnya


Rating: 15+
Genre: Mystery, Horror, Supernatural
Original Manga: Ryu Fujisaki
Original Creator: Fuyumi Ono
Director: Tetsuro Amino
Music: Yasuharu Takanashi
Number of episodes: 22
Official Sitehttp://www.okiagari.net/


This is the appointed time when he will come to the wasteland. That corpse should have been buried together with his grief..


Jadi ceritanya itu dimulai dengan kebencian Shimizu Megumi terhadap desanya; Sotoba--sebuah desa terpencil yang berpenduduk sejumlah 1300 orang. Kalau mayoritas penduduk Jepang mengkremasi jasad orang yang sudah meninggal, di Satoba masih dijalankan tradisi mengubur mayat orang meninggal. Lagi pula, rata-rata pekerjaan para penduduk Sotoba itu membuat kayu nisan kuburan. Dua hal yang Megumi sukai dari desanya adalah Yuuki Natsuno; pemuda tampan yang baru saja pindah dari kota dan kastil Kanemasa yang terletak di atas bukit dan terlihat jelas dari pedesaan. Tanaka Kaori memberitahu pada Megumi bahwa kastil Kanemasa dihuni oleh sepasang suami istri dan putri mereka. Didorong oleh rasa penasarannya Megumi pun mendatangi kastil tersebut. Dan setelah itu keberadaan Megumi tidak diketahui.


Seorang penduduk desa menemukan Megumi terbaring setengah sadar di hutan. Dokter Ozaki Toshio yang memeriksanya mengatakan kalau Megumi hanya terkena anemia biasa. Namun dua hari kemudian Dokter Ozaki mendapat telepon yang mengatakan kalau Megumi meninggal dunia!


Sebenarnya belakangan ini di Sotoba banyak orang yang meninggal secara misterius. Satu keluarga ditemukan meninggal, beberapa mayat dalam keadaan membusuk juga ditemukan, dan yang lainnya meninggal karena anemia seperti Megumi. Ozaki dan pendeta kuil Muroi Seishin yang mulai curiga ada sesuatu di balik semua kematian mulai melakukan penyelidikan. Ternyata kurang dari sebulan, sudah ada sepuluh orang Sotoba yang meninggal dunia. Kesamaan pada semua korban adalah gejala awal penyakit biasa, seperti Megumi yang awalnya didiagnosis anemia, namun dari hari ke hari keadaan korban semakin memburuk yang berakhir meninggal dunia. Ozaki dan Muroi menduga wabah epidemik melanda Sotoba. Ozaki didatangi Yasumori Nao yang merasa kelelahan. Ozaki melihat keadaan Nao mirip Megumi sehingga ia memeriksa wanita itu dengan seksama. Sambil menunggu hasil lab keluar, Ozaki memberikan vitamin dan meminta Nao datang tiga hari lagi. Hasil tes Nao menunjukkan gejala yang sama dengan Megumi, yaitu anemia. Ozaki meminta suster menelepon Nao supaya datang lebih cepat untuk pemeriksaan lanjutan. Beberapa hari kemudian Nao yang sudah kepayahan datang ke rumah sakit sambil dipapah suaminya, Yasumori Mikiyasu. Ozaki mengorek keterangan dari Mikiyasu mengenai keadaan Nao. Menurut suami Nao, istrinya sudah sakit lebih dari tiga hari. Sewaktu ditanya pegawai atau client yang tampak sakit atau bertingkah aneh, Mikiyasu malah menceritakan tentang kedatangan suami istri Kirishiki, penghuni baru kastil Kanemasa. Beberapa hari kemudian Nao meninggal.


Natsuno acuh tak acuh dengan kematian Megumi, padahal ia tahu kalau Megumi suka padanya. Kedatangan Natsuno ke pemakaman Megumi sekedar setor muka, bahkan ia menolak kartu musim panas dari Megumi yang ditemukan Kaori di meja belajar Megumi. Malam harinya saat belajar, Natsuno merasa ada yang mengintai dari semak-semak di luar kamar. Sejak saat itu Natsuno menutup jendela kamar di malam hari. Tapi rasa tak nyaman masih menyerangnya sehingga ia menginap di rumah Mutou Tooru. Tooru keluar membeli minuman ringan di vending machine, uangnya jatuh ke kolong mesin karena tidak sengaja. Tooru dibantu mengambil uangnya oleh Tatsumi, pelayan keluarga Kirishiki yang baru pindah ke kastil Kanemasa. Didorong oleh rasa terima kasih, Tooru mengundang Tatsumi lain waktu bertandang ke rumahnya. Tatsumi menyambut senang undangan tersebut sambil tersenyum aneh.


Sementara itu jumlah orang yang meninggal semakin bertambah. Kecurigaan juga muncul di benak Tanaka Akira. Menurutnya keluarga Kirishiki berada di balik kematian penduduk Sotoba. Kecurigaannya berdasarkan fakta beberapa korban pernah bertemu keluarga Kirishiki sebelum mereka meninggal. Kemalangan tak habis menimpa keluarga Mikiyasu. Kali ini anak Mikiyasu dan Nao menderita penyakit yang sama seperti ibunya. Ozaki sempat mengambil sampel darah Mikiyasu untuk diteliti yang kemudian menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan Nao. Pada akhirnya Mikiyasu pun meninggal dunia, dengan demikian jumlah korban bertambah menjadi 19 orang.


Natsuno masih merasa tidak nyaman tidur di kamarnya, ia merasa di luar sana Megumi berdiri menunggunya. Natsuno mengira dengan menginap di rumah Tooru adalah jalan keluar dari masalahnya, tapi justru membawanya ke dalam mimpi buruk yang sebenarnya. Beberapa hari kemudian Natsuno tidak bertemu Tooru. Ketika Natsuno datang ke rumah Tooru, ia melihat Ozaki tergesa-gesa masuk ke rumah sahabatnya. Sesampainya di kamar Tooru, yang dilihat Natsuno adalah Tooru yang terbaring kaku.


Natsuno yakin ada yang tidak beres. Dia mencari-cari buku tentang vampir di perpustakaan, namun buku tersebut sedang dipinjam Muroi. Ketika mendatangi rumah Muroi, orang yang dicari sedang keluar. Beberapa hari kemudian Natsuno berpapasan dengan Ozaki di jalan dan sempat bertanya jawab mengenai kemungkinan Megumi hidup kembali. Ozaki memikirkan fakta-fakta yang terkumpul; gigitan binatang di tubuh, anemia, tidak meratanya jumlah korban dalam setiap kasus, tradisi mengubur mayat di Sotoba, dan berkurangnya jumlah penduduk. Ozaki curiga bahwa semua kejadian ini bukanlah penyakit epidemi semata, tapi ada hal yang lebih besar lagi di dalamnya.


The dark and gloomy sky hang low, where the clouds and the earth has the world beautifully divided into two..


Yuuki Natsuno


Natsuno selalu ingin kembali ke kota karena tidak betah di Sotoba, makanya ia belajar keras supaya bisa kuliah di kota. Dia cuek kepada Megumi karena tidak suka tingkahnya yang seperti stalker. Sulit mendekati Natsuno karena ia tipe penyendiri. Dia mulai curiga ada yang tidak beres di Sotoba setelah kematian Megumi, namun kematian Tooru--sahabatnya yang membuat Natsuno bertekad menyelediki misteri di desa itu.

Ozaki Toshio


Dokter sekaligus pemilik rumah sakit Ozaki. Ozaki menduga besarnya angka kematian disebabkan oleh wabah penyakit misterius, tapi percakapannya dengan Natsuno membuka pikirannya bahwa ada kemungkinan lain yang lebih mengerikan.

Muroi Seishin


Sahabat lama Ozaki. Dia sudah menulis beberapa cerpen novel dan kumpulan novel. Muroi jadi dekat dengan Sunako karena kerap bertemu gadis itu di malam hari. Ia terlihat punya ketertarikan pada Sunako.

Mutou Tooru


Satu-satunya sahabat Natsuno. Tooru memperlakukan Natsuno seperti adik sendiri. Meski sudah menjadi Shiki, Tooru tetap memiliki hati nurani yang berperang dengan kebutuhan fisik akan darah manusia.

Tanaka Akira


Putra bungsu keluarga Tanaka. Akira yakin keluarga Kirishiki merupakan otak dibalik kematian penduduk Sotoba. Tidak ada yang percaya padanya selain Kaori dan Natsuno. Bersama Natsuno dan Kaori, Akira menyelidiki misteri di desa kelahirannya.

Tanaka Kaori


Termasuk segelintir orang yang benar-benar berduka atas kematian Megumi. Kaori baru percaya ada yang tidak beres di Sotoba setelah ia melihat sendiri kubur kosong Megumi dan diserang oleh mayat hidup.

Tatsumi


Pelayan keluarga Kirishiki. Tugasnya mengawasi Shiki supaya rahasia mereka tidak diketahui dunia luar. Tatsumi yang selalu tersenyum ramah ini sebenarnya sadis. Dia senang mempermainkan perasaan Shiki yang masih terikat dengan dunia manusia.

Shimizu Magumi


Gadis cantik yang bercita-cita menjadi bintang terkenal. Ketertarikannya pada Natsuno dikarenakan ia tahu pemuda itu juga muak dengan Sotoba. Rasa penasarannya kepada keluarga Kirishiki dibayar mahal dengan kehidupan sebagai mahluk malam. Meski sudah menjadi Shiki, Megumi masih menyukai Natsuno.

Keluarga Kirishiki


Keluarga yang pindah ke kastil Kanemasa. Cewek kecil di tengah itu Sunako. Lalu wanita yang duduk itu Chizuru. Laki-laki yang pakai jas putih itu Seishirou. Lalu cowok yang ada kuping kucing (sebenarnya model rambut) itu Tatsumi. Nah sisanya saya lupa siapa namanya, cewek berkimono sama cowok berkacamata itu..


Kalau menurut saya sih endingnya tidak terlalu buruk. Hanya saja saya masih penasaran sama Muroi yang pergi pakai mobil membawa koper kecil (yang menurut saya berisi Sunako). Oh, dan lagi musicnya itu benar-benar membuat saya khawatir lirik kiri-kanan (saya kan nontonya malam-malam, sendirian pula, haha..).
Aa, pokoknya ini anime termasuk anime yang saya rekomendasikan :)

sumber : Animonster dan pemikiran gaje saya X)

Fangirling side :
Dari sekian banyak cowok di Shiki saya naksir Ozaki Toshio-sensei >.<
Aa, wajahnya emang udah tua, tapi charmingnya itu masih kerasa. Walaupun agak ngeri juga waktu dia otak-atik tubuh istrinya (ups, spoiler, hihi..)
Awalnya sih saya naksir Natsuno. Tapi setelah beberapa episode saya kurang sreg sama Natsuno, mungkin karena dia terlalu dingin..






he's so adorable, isn't he?


Soon, the light from the sun will fade, and once again, night will come..

*) picture taken from zerochan.net

Sunday, March 04, 2012

Spring Rain

Akari menyesap es coklatnya. Ia bersandar di salah satu ambang jendela sekolah yang berada dekat tangga menuju lantai dua. Ia menatap hujan. Sekarang musim semi, dan hujan malah turun. Ia mendesah pelan. Sesungguhnya ia suka hujan, aroma tanah yang basah, suara kecipak genangan air yang terlindas ban sepeda, dan suasana lembabnya, ia suka. Tapi tidak begitu dengan hujan di musim semi. Hujannya merontokkan kuncup sakura. Membuatnya harus menunggu lebih lama apabila ingin menikmati guguran sakura di akhir musim semi. Dan hujan musim semi ini pula yang menyebabkannya tak bisa segera pulang ke rumah.


Gadis lima belas tahun itu melirik jam tangan perak yang melingkari tangan kirinya. Pukul 16.45. Kegiatan belajar mengajar sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Begitu pula dengan kegiatan klub. Mungkin sekarang hanya ia dan beberapa guru yang masih berada di sekolah.


Akari tidak mempunyai teman dalam artian yang ‘sesungguhnya’. Gadis itu terlalu pendiam untuk memulai suatu percakapan dengan teman-teman sekolahnya. Temannya yang ‘sesungguhnya’ bersekolah di sekolah yang berbeda dengannya. Mereka berteman sejak SMP, dekat, tak terpisahkan. Akari bisa menceritakan apapun pada Minami. Urusan keluarga, sekolah, cowok yang tengah ditaksirnya, dan hal-hal kecil yang tidak penting untuk dibicarakan. Biasanya ketika hari libur mereka sering bergantian menginap di rumah salah satu dari mereka. Menonton film, membaca buku, mengobrol, dan segala hal yang berhubungan tentang perempuan. Mereka rencananya akan besekolah di satu sekolah yang sama ketika SMA, akan tetapi karena beberapa pertimbangan orang tua, mereka terpaksa bersekolah di sekolah yang berbeda. Tapi hal itu lantas tak membuat mereka putus hubungan.


Akari merindukan Minami. Teman-teman di SMA tidak seperti yang diharapkannya. Teman-teman barunya itu lebih sering menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Tipikal ‘aku ada ketika kau senang’. Hal itulah yang membuat Akari lebih suka menghabiskan waktu istirahanya di perpustakaan ataupun makan siang sendirian di halaman belakang sekolah. Dan hal itu benar-benar membuatnya merasa seperti patung hidup di kelas.


Akari bercita-cita menjadi seorang penulis.  Ia telah dijejali ayahnya berbagai macam dongeng dari banyak negara sejak ia sudah bisa menbaca. Sampai saat ini ia paling menyukai dongeng tentang para peri Neverland. Tinker Bell, Terence, Silvermist, dan peri-peri cantik lainnya. Katakanlah ia kekanakan. Tapi itulah caranya untuk mencapai impiannya. Di mana ia harus bermimpi, kemudian bekerja keras, dan ia akan mendapatkan ledakan besar di akhir perjuangannya. Ia tak peduli apakah ledakan itu memunculkan kerusakan ataupun bias kembang api yang berwarna-warni. Setidaknya aku sudah mencoba, pikirnya.


Dongeng tak pernah lengkap tanpa sosok seorang pangeran dan cinta yang ‘happily ever after – hidup bahagia selamanya’. Dan itu pula yang selalu diinginkan Akari. Di mana suatu saat nanti ia akan bertemu cinta sejatinya dan hidup bahagia selamanya; sesederhana itu. Tapi pada kenyataannya hidup jarang sekali berpihak padanya.


Pada saat SMP Akari menyukai cowok yang kelasnya bersebelahan dengannya. Cowok itu pendiam (sama dengannya), pintar, dan segala hal yang tampak manis di mata Akari. Suatu hari Minami memaksanya untuk menyatakan perasaan sukanya, dan entah kenapa dengan bodohnya Akari menuruti paksaan Minami. Ketika itu yang didapat Akari hanya ‘Oh, begitu’. Singkat, tapi mampu membuat hatinya dilanda kegalauan selama berminggu-minggu.


Ketika masuk SMA Akari berjanji ia tak akan jatuh hati ke sembarang orang. Tapi janjinya itu bahkan sudah dalam ambang keretakan ketika hari pertamanya masuk sekolah.


Mereka bertemu di upacara penerimaan siswa baru. Lelaki itu duduk beberapa barisan di belakang Akari. Hanya dengan sekali pendang, hati Akari mulai berdesir. Mereka ditempatkan di kelas yang sama. Akari hampir melonjak kegirangan ketika lelaki itu melangkah memasuki ruang kelas (Akari sudah masuk ke kelas beberapa menit lebih awal). Mereka duduk bersebelahan. Akari di bagian tepi dekat jendela, dan lelaki itu berada di sebelah kanannya. Ah, nama lelaki itu tikus─nezumi.


Akari selalu membayangkan mereka dapat mengobrol dengan akrab. Seperti yang selalu dilakukan Nezumi kepada teman-teman lelakinya. Hanya saja lelaki itu susah untuk didekati. Selain karena ternyata lelaki itu sedikit pendiam, Akari juga tak memiliki cukup keberanian untuk berbicara dengannya. Kalaupun mereka berbicara, mereka hanya membahas masalah sekolah.


Akari selalu bertanya-tanya kenapa Nezumi sering membolos pada pelajaran Bahasa Jepang dan Home Economic. Suatu sore ketika pulang sekolah Akari berpapasan dengan Nezumi di depan supermarket dekat pertigaan tak jauh dari rumahnya. Laki-laki itu memakai kaos biru, jeans lusuh, dan topi baseball. Ia memakai sepatu dan membawa tas sekolahnya ketika itu. Akari sudah memanggilnya berkali-kali, tetapi lelaki itu tetap tidak menoleh (atau pura-pura tak dengar?).


Akari tidak yakin apakah ia benar jatuh hati pada Nezumi. Tak banyak hal istimewa pada lelaki itu. Hidungnya mancung dan matanya coklat. Dua hal yang membuatnya istimewa di mata Akari (kecuali kalau kebiasaan membolos juga disebut keistimewaan mungkin bisa masuk dalam hitungan), hanya itu. Selebihnya lelaki itu kurang lebih sama dengan anak cowok di kelasnya.


·
·
·


Akari melirik lagi jam tangan peraknya, pukul 17.02 dan hujan belum juga berhenti. Gadis itu menggerutu pelan sembari menyesap es coklatnya. Tetapi tak ada cairan yang melewati kerongkongannya. Ia membuka tutup plastik pada gelas plastiknya. Yang ditemukan hanya titik-titik es coklat yang menempel pada bagian dinding gelas. Ia menggerutu lagi, meremas gelas pastiknya, dan membuangnya asal ke arah tangga.


“Kau bisa dimarahi Kirisama-sensei kalau ketahuan membuang sampah sembarangan.” Akari melonjak pelan, suara itu benar-benar mengejutkannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Nezumi tengah berdiri di tangga paling bawah dengan menggenggam gelas plastik yang tadi dibuangnya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Apa yang tengah kau lakukan?”


Mereka menyebutkannya secara bersamaan. Nezumi menaiki tangga lalu membuang gelas platik itu ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempat Akari berdiam diri. Lelaki itu kemudian bersandar di ambang jendela di sebelah Akari. Menopang dagu.


“Kenapa tak pulang?” tanya Nezumi. Matanya menerawang ke langit yang semakin gelap.


Akari ikut-ikutan menopang dagunya. “Tadi ada kegiatan klub. Ketika akan pulang tiba-tiba saja hujan. Aku tak bawa payung.”


“Oh, begitu.”


Gadis berambut sebahu itu mencuri pandang kepada Nezumi melalui ekor matanya. Lelaki itu sedikit basah, sepertinya ia baru saja menembus hujan. Baju seragamnya dikeluarkan dan lengannya digulung sampai siku. Dasinya sudah tak dipakai lagi. Dan dua kancing atas kamejanya terbuka. Air menetes-netes dari ujung rambutnya. Tasnya terlihat sangat basah. Sepertinya lelaki itu menggunakan tasnya sebagai payung.


“Kau sendiri, apa yang kau lakukan?” Akari memberanikan diri untuk bertanya.


Nezumi menyisir rambutnya dengan jari sebelum menjawab. Membuat rambutnya tampak semakin berantakan. “Ada yang tertinggal.” Akari hanya mengangguk pelan.


Hening.


“Kau ikut klub apa?” Nezumi memecah keheningan. Sepertinya ia tak begitu nyaman dengan keheningan ini.


“Jurnalistik, di bagian majalah sekolah.”


“Aku tak pernah tertarik dengan majalah sekolah.”


Kata-kata Nezumi membuat gadis itu bertanya-tanya. “Kenapa?”


Nezumi menghela napas. “Isinya hanya omong kosong.”


Akari menolehkan kepalanya dengan cepat sampai lehernya terasa sedikit sakit. Sebagai penanggung  jawab majalah sekolah ia merasa tersinggung. “Maaf, tapi apa maksudmu dengan omong kosong?”


“Rubik cerita konyol, teka-teki silang, horoscope, dan ramalan percintaan. Itu omong kosong.”


Akari mengernyitkan dahinya. “Maksudmu?”


“Sebenarnya daya tangkap otakmu itu berapaa sih?” Nezumi bertanya seolah-olah dia pandai saja, membuat Akari mengeryitkan dahinya semakin dalam. “Rubik cerita konyol, buat apa membuat cerita yang jelas-jelas mempermalukan sesorang?”


“Tapi itu kan…,”


“Jangan memotong kalimatku.” Nezumi berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya. “Rubik teka-teki silang, membuat anak-anak tak mendengarkan penjelasan guru. Dengan dalih ‘itu kan hanya majalah sekolah’ mereka bisa dengan nyaman membukanya ketika pelajaran berlangsung. Rubik horoscope, apa aku harus menjelaskan? Well, itu hanya untuk orang-orang yang percaya pada peruntungan. Dan rubik ramalan percintaan itu benar-benar membuatku susah. Ingat ketika rubik konyol itu menyarankan untuk memberi surat cinta kepada orang yang kita sukai? Itu membuatku repot tahu.”


Akari hanya bisa tercengung. Nezumi berbicara sebanyak itu? Wow. Keajaiban.


“Rubik cerita konyol kan tak benar-benar kejadian sungguhan,” ujar Akari, mencoba untuk protes.


Nezumi menggelengkan kepalanya. “Nama. Nama yang kalian pakai itu bisa membuat seseorang tersinggung.”


Akari terpekur. Ia tak pernah memikirkan  sampai sejauh itu. Selama ini mereka   (ia dan teman-teman klub jurnalistiknya) selalu mengambil secara random nama yang akan dipakai untuk cerita konyol. Tak disangka akan berefek seperti itu apabila ditelaah lagi.


Sou ka. Lalu bagaimana kau tahu kalau rubik teka-teki silang sering dimainkan saat pelajaran berlangsung?”


Nezumi sedikit terkekeh. “Aku ini anak nakal. Aku tahu apa yang anak-anak nakal lakukan.” Ada nada banga dalam kalimatnya barusan. Nezumi menolehkan kepalanya, menatap Akari lalu nyengir.


Akari tercengung. Ia tak menyangka orang yang jarang berbicara padanya akan menatapnya seperti itu. Lembut.


Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Berharap Nezumi tak akan mendengar degup jantungnya yang begitu kencang. Jantungnya seperti akan meloncat dari dadanya saat ini. Benar-benar membuatnya gugup.


“Kau bilang, kau direpotkan oleh surat cinta. Memangnya apa yang terjadi padamu?” tanya Akari ketika gadis itu sudah bisa menjinakkan degup jantungnya.


“Fansku. Mereka mengirimiku surat cinta. Lokerku jadi penuh tahu.”


Akari sedikit terbelalak. “Kau… punya fans?”


Kali ini Nezumi yang menolehkan kepalanya begitu cepat, sampai-sampai ia khawatir lehernya akan patah saat itu juga. “Hei, ada orang tampan yang duduk di sebelahmu dan kau tak menyadari ketampanannya?”


Akari menggeleng pelan. “Umm, aku. Bukannya aku tak menyadarimu, hanya saja… well… aku jarang memedulikan sekitarku.” Wajah Akari memerah. Ia tak menyangka mulut bodohnya akan mengucapkan hal memalukan kepada Nezumi.


“Begitu…” Nezumi menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


Hening (lagi).


Di luar semburat senja mulai terlihat. Dari sini mereka bisa melihat Izumo-san─penjaga sekolah mulai berjalan menuju bangunan sekolah dengan segerombol kunci di tangan kanannya. Hujan sudah mulai berhenti, tetapi masih menyisakan gerimis kecil.


“Sepertinya ini waktunya pulang,” ujar Nezumi.


Akari hanya mengangguk sebagai balasan.


“Kau mau pulang bersamaku? Aku bawa sepeda.” Tawaran Nezumi membuat Akari memerah lagi.


“Jangan repot-repot. Rumahmu kan berbeda arah dengan rumahku.” Gadis itu mencoba menolak tawaran Nezumi. Tetapi ia sendiri tak yakin apakah rumah Nezumi benar-benar berbeda arah dengan rumahnya.


“Kau ini benar-benar ya. Rumahku kan hanya berjarak dua gang dari rumahmu.” Nezumi menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis ini… benar-benar tidak memperhatikan sekelilingnya. Keterlaluan.


Semburat merah di wajah Akari semakin bertambah tebal. “Eh, benar kah?


“Hm!” Nezumi menganggukkan kepalanya. “Ayo pulang, Akari.”


Mereka menuruni tangga. Nezumi menggenggam tangannya. Wajah Akari benar-benar panas sekarang. Tadi Nezumi menyebutkan namanya. Hal itu membuat hatinya merasa hangat. Itu artinya, Nezumi menyadari keberadaannya…


·
·
·


Semilir angin senja sehabis hujan membawa hawa yang cukup dingin untuk membuat Akari sedikit menggigil. Hujan sudah benar-benar berhenti. Baru saja mereka melewati gerbang sekolah, hujannya kemudian berhenti. Dan Akari sangat bersyukur akan hal itu. Sekarang yang gadis itu pikirkan adalah mandi air hangat kemudian meminum segelas ocha panas.


“Akari,” panggil Nezumi. Mereka tengah melewati jalan kecil yang di sebelahnya kirinya terdapat sungai yang cukup lebar. Kata ayah sungai itu dijadikan sumber irigasi untuk sawah-sawah yang berada tak jauh dari kota kecil mereka. Bias matahari senja tampak begitu indah di air jernih sungai itu.


“Ya,” balas Akari. Ia siap mendengarkan.


Nezumi terdiam sebentar. “Kenapa kau begitu menutup diri? Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu.”


Akari tersenyum (tentunya Nezumi tak bisa melihat senyum itu, mereka berboncengan, ingat?). “Aku sendiri tak tahu.”


“Sayang sekali. Padahal kelihatannya kau orang yang menyenangkan.”


“Aku bukan orang yang menyenangkan,” sangkal Akari. Ia teringat teman-teman SMA-nya. Mereka hanya berbicara seperlunya saja kepadanya. Itu membuktikan kalau ia orang yang tak menyenangkan kan? Iya kan?


“Kenapa kau bisa menilai seperti itu?”


“Mereka hanya berbicara seperlunya padaku.”


“Dasar bodoh. Hal dasar seperti itu kan yang menentukan orang lain. Dan lagi, menurutku, itu juga karena kau saja yang irit bicara. Mereka kan tidak bisa terus-terusan menjadi orang yang memulai percakapan.”


Hening (lagi dan lagi).


Yang terdengar hanya kayuhan sepeda Nezumi. Mereka berbelok. Akari ingat itu belokan terakhir menuju rumahnya. Kenapa waktu terasa begitu cepat?


“Akari,” panggil Nezumi lagi.


“Ya.”


“Kalau aku memintamu menjadi kekasihku, apa yang akan kau lakukan?” Sayang sekali Akari tak bisa melihat wajah Nezumi. Kalau ia melihatnya, mungkin ia tak bisa membedakan tomat dengan wajah Nezumi sekarang.


Akari tak tahu ia harus menjawab apa. Ini kali pertama ada seseorang yang memintanya untuk menjadikannya kekasih.


“Aku hanya bilang kalau. Itu belum tentu benar-benar terjadi.” Dan sekarang Nezumi merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa dengan bodohnya mengucapkan kalimat itu.


Ada sesuatu yang menarik isi perut Akira secara paksa. Dan hal itu terasa menyakitkan. “Aku akan memikirkannya dulu. Aku tidak terlalu akrab denganmu.” Gadis itu berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar.


“Begitu…”


Hening (lagi dan lagi dan lagi).


Nezumi merasa ia adalah cowok terbebal sekarang. Ia sudah melambungkan hati seorang gadis, tapi saat itu juga ia menarik hati itu ke bumi kuat-kuat. Sekarang kata-kata Suzuki kalau ia benar-benar bodoh dalam hal percintaan benar-benar terbukti.


Mereka sampai di rumah Akari. Rumahnya sepi. Sepertinya ayah belum pulang, pikir gadis itu.


“Terima kasih sudah mengantarku pulang.”


“Sama-sama.” Nezumi menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia terlihat sedikit gugup.


Nezumi belum beranjak dari tempatnya. Dan Akari sedikit heran akan hal itu. Senja sudah hampir tenggelam digantikan malam. Akan lebih baik kalau Nezumi segera sampai di rumah.


“Besok pergi sekolah bersamaku ya?” pinta Nezumi. Laki-laki itu menatap Akari penuh harap.


Akari sedikit terkejut akan ajakan Nezumi. Apakah itu semacam ajakan kencan setiap pagi? “Hal itu akan merepotkanmu. Aku ti…”


“Aku senang direpotkan olehmu,” potong lelaki itu.


“Kalau kau tak keberatan. Well, baiklah.”


“Besok tunggu aku di sini,” pinta Nezumi lagi.


Akira mengangguk. Oke, kalimat Nezumi terdengar sedikit aneh ditelinganya. Tentu saja ia akan menunggunya di sini. “Aku tahu.”


“Kalu begitu aku pulang dulu. Dah…”


Nezumi sudah mengayuh sepedanya menjauh. “Dah…"


Nezumi tahu, seharusnya ia meminta maaf kepada Akari akan kata-kata ‘permintaan menjadi kekasih’nya tadi. Tapi toh masih ada banyak hari. Hari yang akan dihabiskannya bersama Akari…


Tamat (atau mungkin bersambung)




a/n
well, ini cerpen yang saya kumpulkan untuk tugas bahasa indonesia. masih jelek (saya tahu). kata teman saya endingnya masih menggantung. mungkin kapan-kapan akan saya buat lanjutannya =)


*) picture taken from weheartit.com
 

Designed by 100 Web Hosting